KAJIAN FIKIH TEMATIK
فِقْهُ الزِّيَارَةِ وَآدَابُهَا

Fikih dan Adab Bertamu dalam Islam

Isti’dzân, Ziyârah, dan Dhiyâfah: telaah dalil dan ibarat fukaha
Muhamad Abdul Wahab, Lc., M.H.
Jakarta, Oktober 2026

Peta Materi

01
Landasan & Kedudukan
Istilah, keutamaan, ayat-ayat bertamu
02
Fikih Isti’dzân
Hukum, hikmah, tata cara, batas, mengintip
03
Fikih Dhiyâfah
Perintah, batas tiga hari, teladan Ibrahim
04
Hukum Tamu atas Hidangan
Makan tanpa lafaz, membawa pulang, puasa, tathafful
05
Adab & Kontemporer
Daftar periksa, WhatsApp, bel, foto, kos
Fikih dan Adab Bertamu dalam Islam

Tasyjîr: Peta Masalah Bertamu

Bertamu (Ziyârah)
Isti’dzân
kewajiban tamu sebelum masuk
Hukum & hikmah
Tata cara & batas
Larangan mengintip
Dhiyâfah
kewajiban tuan rumah
Hukum menjamu tamu
Batas tiga hari
Teladan Nabi Ibrahim
Hidangan & Adab
hukum tamu di dalam rumah
Makan tanpa lafaz izin
Tasharruf & tathafful
Adab kontemporer
Fikih dan Adab Bertamu dalam Islam
01
الزِّيَارَةُ

Landasan & Kedudukan

Istilah pokok, nilai ibadah sebuah kunjungan, dan ayat-ayat Al-Qur’an tentang bertamu

Empat Istilah Pokok

Ziyârah
زِيَارَة
Kunjungan ke tempat orang lain: silaturahmi, menjenguk, menuntut ilmu, atau keperluan lain.
Isti’dzân
اسْتِئْذَان
Meminta izin masuk. Al-Qur’an menyebutnya isti’nâs: mencari tahu apakah penghuni rumah rela didatangi.
Dhiyâfah
ضِيَافَة
Menjamu dan memuliakan tamu. Pelakunya disebut mudhîf (tuan rumah).
Dhaif
ضَيْف
Setiap orang yang menghadiri makanan orang lain; hakikatnya orang asing yang singgah.
Ibn Juzai, at-Tashîl 3/285 · Ibn Ḫajar al-Haitamî, Tuḫfat al-Muḫtâj 7/434

Kunjungan yang Dicintai Allah

«أَنَّ رَجُلًا زَارَ أَخًا لَهُ فِي قَرْيَةٍ أُخْرَى، فَأَرْصَدَ اللهُ لَهُ عَلَى مَدْرَجَتِهِ مَلَكًا ... فَإِنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَيْكَ بِأَنَّ اللهَ قَدْ أَحَبَّكَ كَمَا أَحْبَبْتَهُ فِيهِ»
"Seorang lelaki mengunjungi saudaranya di desa lain, lalu Allah mengutus malaikat menunggunya di jalan … (Malaikat itu berkata:) Aku utusan Allah kepadamu untuk mengabarkan bahwa Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu karena-Nya."
HR. Muslim no. 2567, dari Abû Hurairah
Bernilai ibadah
Bila diniatkan karena Allah: silaturahmi, menjenguk, menuntut ilmu, mendamaikan.
Berubah jadi dosa
Bila dibarengi pelanggaran: masuk tanpa izin, mengintip, khalwat, menggunjing, menyusahkan tuan rumah.
Fikih dan Adab Bertamu dalam Islam

QS An-Nûr: 27–28

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ (٢٧) فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فِيهَا أَحَدًا فَلَا تَدْخُلُوهَا حَتَّى يُؤْذَنَ لَكُمْ وَإِنْ قِيلَ لَكُمُ ارْجِعُوا فَارْجِعُوا هُوَ أَزْكَى لَكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ (٢٨)﴾
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Itu lebih baik bagimu agar kamu ingat. Jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya, janganlah masuk sebelum diberi izin. Jika dikatakan kepadamu, "Kembalilah," maka kembalilah. Itu lebih suci bagimu. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
QS An-Nûr: 27–28
Fikih dan Adab Bertamu dalam Islam

Empat Hukum dari Dua Ayat

1. Tanpa izin, jangan masuk
Larangan memasuki rumah orang lain sebelum mendapat izin.
2. Ucapkan salam
Perintah memberi salam kepada penghuninya.
3. Rumah kosong pun
Tidak boleh dimasuki sampai ada izin; izin tidak gugur karena penghuninya tak ada.
4. Ditolak? Pulanglah
Pulang setelah ditolak itu azkâ lakum: lebih suci, bukan aib.
Ayat 29: tempat tak berpenghuni yang ada keperluan bagimu (mis. penginapan wakaf di jalan) boleh dimasuki tanpa izin khusus.
Ibn Juzai, at-Tashîl 3/285

Kapan Datang, Kapan Pulang

Tiga waktu aurat
﴿ثَلَاثُ عَوْرَاتٍ لَكُمْ﴾
●Sebelum salat Subuh
●Tengah hari, saat menanggalkan pakaian
●Setelah salat Isya
Anak yang sudah balig meminta izin setiap waktu (ayat 59). — QS An-Nûr: 58–59
Datang & pulang
﴿غَيْرَ نَاظِرِينَ إِنَاهُ ... فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِرُوا﴾
●Jangan datang menunggu-nunggu masakan
●Selesai makan, segera bubar
●Jangan asyik mengobrol: tuan rumah sering sungkan menegur
QS Al-Aḫzâb: 53
Fikih dan Adab Bertamu dalam Islam
02
الِاسْتِئْذَانُ

Fikih Isti’dzân

Hukum, hikmah, tata cara, batas tiga kali, dan larangan mengintip

Izin Wajib, Salam Sunnah

والاستئذان واجب، وأما السلام فلا ينتهي إلى الوجوب
Meminta izin hukumnya wajib, sedangkan salam tidak sampai derajat wajib.
Ibn Juzai al-Kalbî (w. 741 H), at-Tashîl li ’Ulûm at-Tanzîl, 3/285
Izin: wajib
Masuk tanpa izin berdosa, walaupun ia mengucapkan salam. Disyariatkan berdasarkan Al-Qur’an, sunnah, dan ijmak (an-Nawawî, Syarḫ Muslim 14/131).
Salam: sunnah
Meminta izin tanpa salam tidak berdosa, tetapi meninggalkan cara yang diajarkan Nabi ﷺ.
Fikih dan Adab Bertamu dalam Islam

Hikmah: Menjaga Pandangan

«إِنَّمَا جُعِلَ الِاسْتِئْذَانُ مِنْ أَجْلِ الْبَصَرِ»
"Meminta izin itu disyariatkan semata-mata karena (menjaga) pandangan."
HR. al-Bukhârî no. 6241 dan Muslim no. 2156, dari Sahl bin Sa’d
وَإِنَّمَا جُعِلَ لِئَلَّا يَقَعَ الْبَصَرُ عَلَى الْحَرَامِ، فَلَا يَحِلُّ لِأَحَدٍ أَنْ يَنْظُرَ فِي جُحْرِ بَابٍ وَلَا غَيْرِهِ
Ia dijadikan demikian agar pandangan tidak jatuh pada yang haram; maka tidak halal bagi siapa pun melihat lewat lubang pintu atau celah lainnya.
An-Nawawî (w. 676 H), Syarḫ Muslim, 14/137–138
Satu ’illat, banyak larangan: mengintip lewat celah · membuka pintu tertutup · berdiri tepat di depan pintu terbuka · memotret isi rumah tanpa izin
Fikih dan Adab Bertamu dalam Islam

Salam Dahulu atau Izin Dahulu?

«السَّلَامُ عَلَيْكُمْ، أَأَدْخُلُ؟»
Lafaz yang diajarkan Nabi ﷺ — HR. Abû Dâwud no. 5177
PENDAPAT 1
Salam dahulu
Pendapat yang sahih: dibawa oleh sunnah dan dipegang para muhaqqiq.
PENDAPAT 2
Izin dahulu
Mengikuti urutan lafaz dalam QS An-Nûr: 27.
PENDAPAT 3
Dirinci (al-Mâwardî)
Tuan rumah sudah terlihat → salam dahulu.
Belum terlihat → izin dahulu.
Sunnahnya: menggabungkan salam dan izin, lalu mengulanginya paling banyak tiga kali.
An-Nawawî, Syarḫ Muslim, 14/131

Batas Tiga Kali

«إِذَا اسْتَأْذَنَ أَحَدُكُمْ ثَلَاثًا فَلَمْ يُؤْذَنْ لَهُ فَلْيَرْجِعْ»
"Bila salah seorang dari kalian meminta izin tiga kali lalu tidak diizinkan, hendaklah ia pulang."
HR. al-Bukhârî no. 6245 dan Muslim no. 2153, dari Abû Mûsâ al-Asy’arî
Bila diduga tuan rumah tidak mendengar? Tiga pendapat (an-Nawawî, Syarḫ Muslim 14/131):
Paling masyhur
Pulang, tidak mengulangi permintaan izin.
Kedua
Boleh menambah lebih dari tiga kali.
Ketiga
Lafaz izin yang sama: jangan diulang. Lafaz lain: boleh.
Beri jeda: tiga kali adalah tiga kesempatan bagi tuan rumah untuk menjawab, bukan tiga ketukan beruntun dalam sekejap.
Fikih dan Adab Bertamu dalam Islam

Sebut Nama, Bukan "Saya"

«اسْتَأْذَنْتُ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: مَنْ هَذَا؟ فَقُلْتُ: أَنَا، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: أَنَا أَنَا»
"Aku meminta izin kepada Nabi ﷺ. Beliau bertanya, 'Siapa ini?' Aku menjawab, 'Saya.' Beliau berkata, 'Saya, saya?'"—seakan tidak menyukainya.
HR. al-Bukhârî no. 6250 dan Muslim no. 2155, dari Jâbir bin ’Abdillâh
بَلْ يَنْبَغِي أَنْ يَقُولَ: فُلَانٌ بِاسْمِهِ، وَإِنْ قَالَ: أَنَا فُلَانٌ فَلَا بَأْسَ
Seharusnya ia menyebut namanya. Bila berkata "Saya Fulan", tidak mengapa.
An-Nawawî, Syarḫ Muslim, 14/135
Tepat
✓"Saya Ahmad"
✓"Saya Ustaz Fulan" / "Abû Fulân"
Kurang tepat
✕"Saya"
✕"Aku" atau "Ini aku"
Fikih dan Adab Bertamu dalam Islam

Berdiri di Sisi Pintu

«كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا أَتَى بَابَ قَوْمٍ لَمْ يَسْتَقْبِلِ الْبَابَ مِنْ تِلْقَاءِ وَجْهِهِ، وَلَكِنْ مِنْ رُكْنِهِ الْأَيْمَنِ أَوِ الْأَيْسَرِ»
"Bila Rasulullah ﷺ mendatangi pintu suatu kaum, beliau tidak berdiri tepat menghadap pintu, tetapi dari sisi kanan atau kirinya."
HR. Abû Dâwud no. 5186, dari ’Abdullâh bin Busr
Alasannya
Rumah-rumah saat itu belum bertirai. Bila pintu tertutup, boleh berdiri di mana saja dan boleh mengetuk.
Faidah: bentuk ikut zaman
Atsar Ibn ’Abbâs: orang meninggalkan isti’dzân karena sudah ada pintu dan ketukan. Bentuknya berubah, substansinya tetap: memastikan kerelaan penghuni.
Al-Qurthubî (w. 671 H), al-Jâmi’ li Aḫkâm al-Qur’ân, 12/216

Mengintip: Pelanggaran yang Berat

«لَوْ أَنَّ امْرَأً اطَّلَعَ عَلَيْكَ بِغَيْرِ إِذْنٍ فَخَذَفْتَهُ بِحَصَاةٍ فَفَقَأْتَ عَيْنَهُ، لَمْ يَكُنْ عَلَيْكَ جُنَاحٌ»
"Seandainya ada orang mengintipmu tanpa izin, lalu engkau melemparnya dengan kerikil hingga matanya tercungkil, tidak ada dosa atasmu."
HR. al-Bukhârî no. 6902 dan Muslim no. 2158, dari Abû Hurairah
AspekMazhab Syafi’i
an-Nawawî, Syarḫ Muslim 14/138
Mazhab Hanafi
al-Qudûrî, at-Tajrîd 12/6130
Mata pengintip dilempar hingga rusakTidak ada tanggungan (bila di rumah itu tak ada mahramnya)Wajib menanggung, kecuali sebagai penolakan yang tak bisa lebih ringan
Melempar sebelum diperingatkanDua pendapat; lebih sahih: bolehHarus mulai dari cara teringan
Bukan anjuran main hakim sendiri. Pesannya: mengintip rumah orang adalah dosa berat; penindakan diserahkan pada hukum yang berlaku.
Fikih dan Adab Bertamu dalam Islam
03
الضِّيَافَةُ

Fikih Dhiyâfah

Perintah memuliakan tamu, batas tiga hari, peta hukum mazhab, dan teladan Nabi Ibrahim

Memuliakan Tamu dan Batasnya

«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، جَائِزَتُهُ يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ، وَالضِّيَافَةُ ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ، فَمَا بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ صَدَقَةٌ، وَلَا يَحِلُّ لَهُ أَنْ يَثْوِيَ عِنْدَهُ حَتَّى يُحْرِجَهُ»
HR. al-Bukhârî no. 6135, dari Abû Syuraiḫ al-Ka’bî; lihat juga Muslim no. 48
Hari 1
Jâ’izah: jamuan istimewa, hidangan terbaik yang mampu disediakan.
Hari 2–3
Dhiyâfah: jamuan biasa sebagai hak tamu.
Hari 4 dst.
Sedekah: apa yang diberikan terhitung sedekah.
Bagi tamu: haram tinggal hingga menyusahkan tuan rumah. Riwayat Muslim: ḫattâ yu’tsimahu—hingga membuatnya berdosa (mengeluh, menggunjing, atau berutang demi gengsi).
Fikih dan Adab Bertamu dalam Islam

Hukum Menjamu Tamu

وَقَدْ أَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلَى الضِّيَافَةِ وَأَنَّهَا مِنْ مُتَأَكِّدَاتِ الْإِسْلَامِ، ثُمَّ قَالَ الشَّافِعِيُّ وَمَالِكٌ وَأَبُو حَنِيفَةَ ... وَالْجُمْهُورُ: هِيَ سُنَّةٌ لَيْسَتْ بِوَاجِبَةٍ، وَقَالَ اللَّيْثُ وَأَحْمَدُ: هِيَ وَاجِبَةٌ يَوْمًا وَلَيْلَةً
Kaum muslimin berijmak tentang dhiyâfah dan bahwa ia termasuk perkara yang sangat ditekankan. Asy-Syâfi’î, Mâlik, Abû Ḫanîfah, dan jumhur: sunnah, tidak wajib. Al-Laits dan Aḫmad: wajib sehari semalam.
An-Nawawî, Syarḫ Muslim, 12/30
Sunnah muakkadah
Jumhur. Syafi’iyyah menekankannya untuk keluar dari khilaf, min ghairi takalluf—tanpa memaksakan diri.
Ibn Ḫajar, Tuḫfat al-Muḫtâj 7/434
Wajib sehari semalam
Al-Laits, Aḫmad. Hanbali: tamu boleh menuntut di hadapan hakim; tiga hari dianjurkan, selebihnya sedekah.
Ibn Qudâmah, al-Muqni’ hlm. 452
Fikih dan Adab Bertamu dalam Islam
QS Adz-Dzâriyât: 24–27

Teladan Nabi Ibrahim sebagai Tuan Rumah

قَالَ سَلَامٌ
Jawab lebih baik
Tamu: salâman; Ibrahim: salâmun—jumlah ismiyyah, makna tetap.
فَرَاغَ إِلَى أَهْلِهِ
Bergegas diam-diam
Tamu tidak merasa merepotkan atau sungkan.
بِعِجْلٍ سَمِينٍ
Sajikan yang terbaik
Anak sapi gemuk: hidangan terbaik dari miliknya.
أَلَا تَأْكُلُونَ
Dekatkan & tawarkan
Fa-qarrabahu: hidangan didekatkan; ajakan halus berbentuk tanya.
«وَلَا يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ، وَلَا يَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ»
Tuan rumah lebih berhak menjadi imam dan menempati kursi kehormatannya; tamu tidak mendahuluinya kecuali dengan izin.
HR. Muslim no. 673, dari Abû Mas’ûd al-Anshârî
Fikih dan Adab Bertamu dalam Islam
04
الضَّيْفُ

Hukum Tamu atas Hidangan

Ibarat fukaha Syafi’iyyah di bab walimah: makan tanpa lafaz, batas tasharruf, puasa, dan tathafful

Makan Tanpa Dipersilakan

وَيَأْكُلُ الضَّيْفُ مِمَّا قُدِّمَ لَهُ بِلَا لَفْظٍ، وَلَا يَتَصَرَّفُ فِيهِ إِلَّا بِالْأَكْلِ، وَلَهُ أَخْذُ مَا يَعْلَمُ رِضَاهُ بِهِ
Tamu memakan apa yang dihidangkan kepadanya tanpa ucapan izin, tidak memperlakukannya selain dengan memakannya, dan boleh mengambil apa yang ia tahu direlakan pemiliknya.
An-Nawawî, Minhâj ath-Thâlibîn, hlm. 223
Dasarnya
Tanda keadaan (qarînah ’urfiyyah), seperti minum dari tempat air minum umum di pinggir jalan.
Syarḫ al-Manhaj, dlm. Ḫâsyiyat al-Bujairamî 3/433
Kecuali
Tuan rumah masih menunggu orang lain: jangan makan sebelum ia datang, kecuali diizinkan lisan.
Tuḫfat al-Muḫtâj 7/434
Habiskan semua?
Ibn ash-Shabbâgh: haram. Ibn Ḫajar: lihat tanda keadaan yang kuat—bila memang disediakan untuk dihabiskan, boleh.
Fikih dan Adab Bertamu dalam Islam

Izin Makan, Bukan Izin Memiliki

لَيْسَ لِلضَّيْفِ التَّصَرُّفُ فِي الطَّعَامِ بِمَا سِوَى الْأَكْلِ ... فَإِنْ شَكَّ فِي وُقُوعِهِ فِي مَحَلِّ الْمُسَامَحَةِ فَالصَّحِيحُ التَّحْرِيمُ، وَلَيْسَ لِلضَّيْفِ إِطْعَامُ السَّائِلِ وَالْهِرَّةِ
Tamu tidak boleh memperlakukan makanan selain dengan memakannya … Bila ragu apakah termasuk yang dimaafkan, yang sahih: haram. Tamu tidak boleh memberi makan pengemis dan kucing.
An-Nawawî, Raudhat ath-Thâlibîn, 7/339
Tidak boleh
✕Membawa pulang yang tidak jelas direlakan
✕Memberikannya kepada pengemis
✕Memberi makan kucing
Boleh
✓Mengambil yang diketahui direlakan, mis. berkat yang disediakan
✓Saling menyuapi sesama tamu, kecuali hidangan dibedakan
Fikih dan Adab Bertamu dalam Islam

Tamu Berpuasa & Tamu Tak Diundang

Tamu yang berpuasa
✓Puasa sunnah & tuan rumah merasa berat → berbuka lebih utama, niatkan menyenangkannya
✓Puasa sunnah & tuan rumah tidak keberatan → tetap puasa lebih utama
✕Puasa wajib → haram dibatalkan
Minhâj hlm. 223 · Tuḫfat al-Muḫtâj 7/434
Tathafful
يَحْرُمُ التَّطَفُّلُ
●Masuk ke tempat orang untuk makan, tanpa izin dan tanpa tahu atau menduga kerelaannya
●Pengecualian (al-Mutawallî): kawan akrab yang tahu tuan rumah tak keberatan
●Sunnah Nabi ﷺ: mintakan izin bagi orang yang ikut tanpa diundang (HR. al-Bukhârî 5434; Muslim 2036)
Raudhah 7/339 · Tuḫfat al-Muḫtâj 7/436
Fikih dan Adab Bertamu dalam Islam
05
الْآدَابُ

Adab Praktis & Kontemporer

Dari pintu kayu hingga pesan WhatsApp: kaidah yang sama untuk sarana yang berbeda

Daftar Periksa Tamu

Sebelum masuk
●Kabari lebih dahulu; hindari tiga waktu aurat dan jam makan
●Berdiri di sisi pintu, ucapkan salam, minta izin paling banyak tiga kali
●Sebut nama; bila ditolak, pulang dengan lapang dada
Di dalam rumah
●Jaga pandangan; duduk di tempat yang dipersilakan
●Makan yang dihidangkan, jangan dibawa pulang tanpa jelas izinnya
●Jangan berlama-lama; jangan menemui perempuan yang mahramnya tak ada
«إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ» ... قَالَ: «الْحَمْوُ الْمَوْتُ»
"Hati-hatilah kalian masuk menemui kaum perempuan." … "Ipar adalah kematian."
HR. al-Bukhârî no. 5232 dan Muslim no. 2172, dari ’Uqbah bin ’Âmir
Fikih dan Adab Bertamu dalam Islam
Penerapan kaidah

Masalah Kontemporer

WhatsApp & telepon
Bentuk isti’dzân masa kini. Tak dibalas = ketukan tak dijawab: jangan memaksa datang.
Bel & interkom
Tekan tiga kali dengan jeda, sebut nama; tetap berdiri di sisi pintu.
Memotret isi rumah
Pandangan yang diabadikan dan disebar: lebih berat, wajib izin.
Kos & asrama
Kamar tiap penghuni adalah "rumah"-nya; tamu menginap ikut izin pengelola.
Kantor & layanan umum
Ruang publik pada jam layanan tak perlu izin khusus (QS An-Nûr: 29); ruang privat perlu.
Prasmanan & hajatan
Makan di tempat boleh; membungkus ikut ’urf dan tanda tuan rumah. Ragu? Haram.
Fikih dan Adab Bertamu dalam Islam

Ringkasan

1
Izin wajib, salam sunnah; yang sahih: salam dahulu—Assalâmu’alaikum, a-adkhul?
2
’Illat izin adalah pandangan; mengintip adalah pelanggaran berat.
3
Izin paling banyak tiga kali; sebut nama, berdiri di sisi pintu, terima penolakan.
4
Menjamu tamu: jumhur sunnah muakkadah, Aḫmad dan al-Laits wajib sehari semalam; batas tiga hari.
5
Tamu boleh makan tanpa lafaz, tapi tidak membawa pulang tanpa izin; tathafful haram.
6
Bentuk isti’dzân mengikuti zaman; substansinya tetap: kerelaan penghuni.
Fikih dan Adab Bertamu dalam Islam

Doa Tamu untuk Tuan Rumah

«اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ فِي مَا رَزَقْتَهُمْ، وَاغْفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ»
"Ya Allah, berkahilah mereka pada rezeki yang Engkau berikan, ampunilah mereka, dan rahmatilah mereka."
HR. Muslim no. 2042, dari ’Abdullâh bin Busr
Wallâhu a’lam bish-shawâb

Putar HP ke posisi mendatar agar slide memenuhi layar